
Dear customer, online order operates as usual. We are currently experiencing delays with order dispatch due to the ongoing Coronavirus pandemic. However, we are trying our best to ship your item as soon as possible!
Postage charges
Domestic Delivery
Postage fees for domestic delivery are as below:
-West Malaysia – RM 10
-Sabah & Sarawak – RM 15
For the first 1KG and subsequent additional gram is as per Courier Tariff Rate.
International Delivery
We charge based on Courier International postage fees.
seluang menodak baung | |||||||||||
By: Shahnon Ahmad | |||||||||||
Brand: jejak tarbiah | |||||||||||
| |||||||||||
| |||||||||||
| |||||||||||
|
|||||||||||
| |||||||||||
| |||||||||||
“Kita dah lama bersopan santun.”
“Tok nenek kita dulu pun bersopan santun sampai tergadai semua tanah kepada orang lain. Dan kita semua jadi peminta sedekah di tanah air kita sendiri.”
Sekian lama meneroka hutan dan menyembah perdu getah di tanah orang, Salam serta seluruh penduduk Kampung Terenas masih hidup melarat.
Suman — seorang anak desa yang ramah, tiba-tiba menjadi pemuda berapi-api melawan penindasan dan ketidakadilan dengan semangat yang menggetarkan.
Fatah — setelah menyaksikan jurang kemiskinan di kota, tidak mampu berdiam diri lagi. Kepulangan Fatah ke Terenas kali ini menghimpunkan suara warga kampung untuk berjuang menghadapi kemiskinan yang bermaharajalela.
Seluang Menodak Baung menyimpulkan, betapa kezaliman, walau dari segenap arah sekalipun tidak patut dibiarkan.
Kegelisahan rakyat tani di Kedah pada tahun 70-an diangkat dalam karya ini oleh Sasterawan Negara — Shahnon Ahmad. Hanya mata pena Shahnon yang mampu menjerit, memanggil dan meminta pertolongan bagi mengubah nasib masyarakat desa yang tidak mampu bersuara.
|
|
You may like it too. |
|
|